Ada batasan dalam pengembangan jalan jalur cepat dan transportasi udara, yaitu kemacetan, atau batas kapasitas. Bandar udara memiliki kapasitas yang terbatas untuk melayani penumpang pada jam sibuk, dan juga jalan tol.
Kereta kecepatan tinggi, yang memiliki potensi kapasitas yang besar
dalam gerbongnya, menawarkan pembebasan dari kemacetan dalam kedua
tranportasi di atas. Sebelum perang dunia II
kereta penumpang konvensional adalah alat transportasi antar-kota
utama. Kereta penumpang kehilangan perannya karena jalur perjalanan yang
terbatas.
KRL dari Stasiun Bogor hendak berangkat menuju Jakarta, 1994. Merupakan kereta yang cukup cepat di Indonesia pada zamannya.
Kereta kecepatan tinggi memilik keuntungan dibandingkan dengan
automobil karena dia dapat bergerak dengan kecepatan jauh lebih tinggi
dari mobil dan tidak terhambat oleh kemacetan dan tidak usah disetir.
Untuk jarak yang relatif dekat, sekitar atau kurang dari 650 km (400
mil), kereta kecepatan tinggi memiliki keuntungan lebih dari pesawat,
karena dia tidak membutuhkan waktu cek masuk yang lama, yang menang atas
kecepatan tranportasi udara untuk jarak dekat. Kereta juga memiliki
kapasitas yang jauh lebih besar dan frekuensi yang lebih banyak dari
transportasi udara.
Target tujuan untuk kereta kecepatan tinggi
Awal target tujuan yang dibuat oleh Perancis, Jepang dan Amerika adalah hubungan antara kota-kota besar yang berdekatan. Di Perancis adalah Paris-Lyon, di Jepang adalah Tokyo-Osaka, dan di A.S. masih berupa proposal adalah antara Boston-New York-Washington, D.C..
Pasar yang dituju masih berfokus pada pasaran perjalanan bisnis.
Namun belakangan ini perjalanan tamasya mulai berkembang. Di Perancis
sudah banyak jalur yang menghubungi pantai hiburan di Samudra Atlantik dan Laut Tengah, dan juga taman bermain besar. Dan, Jumat sore merupakan jam puncak bagi kereta TGV
(Metzler, 1992). Sistem TGV telah menurunkan harga untuk perjalanan
jarak jauh agar dapat bersaing dengan transportasi udara, dan sebagai
hasilnya kota-kota dengan jarak tempuh 1 jam oleh TGV telah menjadi
pilihan penumpang. Efek samping dari pembukaan jalur kereta ini adalah
pengembangan yang cepat daerah pedesaan yang terisolasi. Belakangan ini,
beberapa jalur kereta cepat ini sengaja direncanakan untuk tujuan ini,
contohnya adalah Madrid-Sevilla di Spanyol dan Amsterdam-Groningen di Belanda.
